Friday, 5 May 2017

Penyebab Dan Pengobatan Autisme

Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi, interaksi sosial, dan perilaku. ASD tak hanya mencakup autisme, tapi juga melingkupi sindrom Asperger, sindrom Heller, dan gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS).


Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, diperkirakan ada sekitar 2,4 juta orang penyandang autisme di Indonesia pada tahun 2010. Jumlah penduduk Indonesia pada saat itu mencapai 237,5 juta jiwa, berarti ada sekitar satu penyandang autisme pada setiap 100 bayi yang lahir.
Sangatlah penting untuk mewaspadai gejala-gejalanya sedini mungkin, sebab ASD termasuk kondisi yang tidak bisa disembuhkan. Meski demikian, terdapat berbagai jenis penanganan serta langkah pengobatan  intensif yang bisa membantu para penyandang autisme untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari, serta mencapai potensi mereka secara maksimal.

Gejala dan Diagnosis Autisme

Secara umum, gejala autisme terdeteksi pada usia awal perkembangan anak sebelum mencapai tiga tahun. Gejala dan tingkat keparahan autisme juga cenderung bervariasi pada tiap penyandang. Tetapi, gejala-gejala tersebut dapat dikelompokkan dalam dua kategori utama.
Kategori pertama adalah gangguan interaksi sosial dan komunikasi. Gejala ini dapat meliputi masalah kepekaan terhadap lingkungan sosial dan gangguan penggunaan bahasa verbal maupun non verbal.
Sementara kategori kedua meliputi pola pikir, minat, dan perilaku yang terbatas serta bersifat pengulangan. Contoh gerakan repetitif, misalnya mengetuk-ngetuk atau meremas tangan, serta merasa kesal saat rutinitas tersebut terganggu.
Penyandang autisme juga cenderung memiliki masalah dalam belajar dan kondisi kejiwaan lain, misalnya gangguan hiperaktif atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder(ADHD), gangguan kecemasan, atau depresi.
Hubungi dokter jika Anda menyadari adanya gejala autisme atau gangguan perkembangan pada diri Anda maupun anak Anda. Penanganan sedini mungkin sebaiknya dilakukan guna meningkatkan keefektifan perkembangan kondisi ini.

Penyebab Autisme Serta Mitosnya

Terdapat sejumlah faktor, seperti pengaruh genetika dan lingkungan, yang diperkirakan dapat menyebabkan kelainan ini. Namun, penyebab autisme yang pasti belum diketahui hingga saat ini. Dalam kasus-kasus tertentu, autisme juga mungkin dipicu oleh penyakit tertentu.
Di samping itu, ada beberapa hal lain yang juga dianggap sebagai pemicu autisme. Namun, anggapan dan dugaan tersebut telah terbukti tidak berhubungan dengan autisme berdasarkan berbagai penelitian medis. Sejumlah mitos tersebut meliputi:
  • Senyawa thiomersal yang mengandung merkuri (digunakan sebagai pengawet untuk beberapa vaksin).
  • Vaksin campak, gondong, dan rubela (MMR). Vaksin ini pernah dicurigai sebagai penyebab autisme sehingga banyak orang tua yang enggan memberikannya pada anak mereka.
  • Pola makan, seperti mengonsumsi gluten atau produk susu.
  • Pola asuh anak.
Penyandang Autisme Dewasa dan Permasalahannya
Kondisi autisme terkadang baru terdeteksi hingga pengidapnya dewasa. Proses diagnosis saat dewasa dapat membantu para pengidap serta keluarga untuk memahami autisme dan memutuskan jenis bantuan yang dibutuhkan.
Sebagian penyandang autisme dewasa merasa kesulitan untuk mencari pekerjaan karena adanya tuntutan dan perubahan sosial dalam pekerjaan. Pusat layanan khusus autisme bisa membantu mereka untuk mencari pekerjaan yang cocok dengan kemampuan mereka.
Di Indonesia, khususnya Jakarta, terdapat sejumlah organisasi yang menitikberatkan layanan khusus bagi penyandang autisme. Beberapa di antaranya adalah:
  • Yayasan Autisma Indonesia (YAI)
  • Yayasan Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI).
  • Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC).
Gejala Autisme

Kemunculan gejala dan tingkat keparahan pada tiap penyandang autisme sangat bervariasi. Tingkat keparahan autisme umumnya ditentukan berdasarkan masalah komunikasi dan perilaku repetitif yang dialami oleh penderitanya serta bagaimana gangguan-gangguan ini memengaruhi kemampuannya untuk berfungsi dalam masyarakat.
Secara umum, gejala autisme terdeteksi pada usia awal perkembangan anak sebelum mencapai tiga tahun. Berikut adalah beberapa gejala umum yang mungkin dapat membantu Anda untuk lebih waspada.

Gejala Menyangkut  Interaksi dan Komunikasi Sosial

  • Perkembangan bicara yang lamban atau sama sekali tidak bisa bicara.
  • Tidak pernah mengungkapkan emosi atau tidak peka terhadap perasaan orang lain.
  • Tidak merespons saat namanya dipanggil, meski kemampuan pendengarannya normal.
  • Tidak mau bermanja-manja atau berpelukan dengan orang tua serta saudara.
  • Cenderung menghindari kontak mata.
  • Jarang menggunakan bahasa tubuh.
  • Jarang menunjukkan ekspresi saat berkomunikasi.
  • Tidak bisa memulai percakapan, meneruskan obrolan, atau hanya bicara saat meminta sesuatu.
  • Nada bicara yang tidak biasa, misalnya datar seperti robot.
  • Sering mengulang kata-kata dan frasa, tapi tidak mengerti penggunaannya secara tepat.
  • Cenderung terlihat tidak memahami pertanyaan atau petunjuk sederhana.
  • Tidak memahami interaksi sosial yang umum, misalnya cara menyapa.

Gejala Menyangkut Pola Perilaku

  • Memiliki kelainan dalam pola gerakan, misalnya selalu berjinjit.
  • Lebih suka rutinitas yang familier dan marah jika ada perubahan.
  • Tidak bisa diam.
  • Melakukan gerakan repetitif, misalnya mengibaskan tangan atau mengayunkan tubuh ke depan dan belakang.
  • Cara bermain repetitif dan tidak imajinatif, misalnya menyusun balok berdasarkan ukuran atau warna daripada membangun sesuatu yang berbeda.
  • Hanya menyukai makanan tertentu, misalnya memilih makanan berdasarkan tekstur atau warna.
  • Sangat terpaku pada topik atau kegiatan tertentu dengan intensitas fokus yang berlebihan.
  • Cenderung sensitif terhadap cahaya, sentuhan, atau suara, tapi tidak merespons terhadap rasa sakit.
Periksakanlah diri Anda atau anak Anda ke dokter jika mengalami gejala-gejala tersebut. Penting bagi pengidap untuk menjalani penanganan sesegera mungkin agar keefektifannya meningkat.

Gangguan Lain dan Autisme

Penyandang autisme umumnya juga memiliki gejala atau pengaruh dari gangguan lain, misalnya hiperaktif (ADHD), epilepsi, sindrom Tourette (kedutan berulang di area tubuh tertentu), gangguan obsesif kompulsif (OCD)depresi, gangguan kecemasan menyeluruh, gangguan belajar, gangguan sensorik, serta gangguan bipolar.
Tiap gangguan tersebut mungkin membutuhkan penanganan secara terpisah, misalnya obat-obatan atau terapi perilaku kognitif.
Penyebab Autisme

Penyebab autisme belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga bisa memicu seseorang untuk mengalami gangguan ini. Faktor-faktor pemicu tersebut meliputi:
  • Jenis kelamin. Anak laki-laki memiliki risiko hingga 4 kali lebih tinggi mengalami autisme dibandingkan dengan anak perempuan.
  • Faktor keturunan. Orang tua seorang pengidap autisme berisiko kembali memiliki anak dengan kelainan yang sama.
  • Pajanan selama dalam kandungan. Contohnya, pajanan terhadap minuman beralkohol atau obat-obatan (terutama obat epilepsi untuk ibu hamil) selama dalam kandungan.
  • Pengaruh gangguan lainnya, seperti sindrom Down, distrofi otot, neurofibromatosis, sindrom Tourette, lumpuh otak (cerebral palsy) serta sindrom Rett.
  • Kelahiran prematur, khususnya bayi yang lahir pada masa kehamilan 26 minggu atau kurang.
Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa keterkaitan antara pemberian vaksin (terutama MMR) dengan autisme tidaklah benar. Justru, dengan pemberian vaksin, anak Anda akan terhindar dari terinfeksi maupun menyebarkan kondisi-kondisi yang berbahaya bagi dirinya maupun orang lain.

Diagnosis Autisme

Jika Anda mencemaskan perkembangan anak Anda, pastikan Anda mengonsultasikannya pada dokter. Apabila dokter mencurigai adanya gejala autisme, Anda biasanya akan dirujuk pada dokter maupun tenaga spesialis untuk diagnosis lebih lanjut seperti psikolog, ahli saraf anak, psikiater, dokter spesialis anak, dan ahli terapi wicara.
Autisme umumnya didiagnosis berdasarkan gejala yang ditunjukkan oleh sang anak. Ini dilakukan karena tidak ada langkah pemeriksaan spesifik untuk mendiagnosis autisme secara akurat. Beberapa jenis pemeriksaan yang mungkin akan dianjurkan adalah sebagai berikut:
  • Pemeriksaan kondisi fisik serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga. Langkah ini berfungsi untuk menghapus kemungkinan adanya penyakit lain.
  • Pemantauan perkembangan kemampuan. Sang anak biasanya akan diminta untuk mengikuti sejumlah kegiatan agar kemampuan dan aktivitasnya bisa diamati serta diperiksa secara khusus. Pemeriksaan terfokus ini meliputi kemampuan bicara, perilaku, pola pikir anak, dan interaksi dengan orang lain.
Meski demikian, hasil pemeriksaan tersebut belum tentu bisa mendiagnosis autisme secara pasti. Jika para spesialis tidak bisa mengkonfirmasi diagnosis autisme meski pemeriksaan telah selesai, anak Anda mungkin dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang saat usianya lebih tua dan gejala autisme makin terlihat.

Pengobatan Autisme

Autisme termasuk kelainan yang tidak bisa disembuhkan. Namun, banyak layanan bantuan pendidikan serta terapi perilaku khusus yang dapat meningkatkan kemampuan penyandang autisme. Aspek-aspek penting dalam perkembangan anak yang seharusnya menjadi fokus adalah kemampuan berkomunikasi, berinteraksi, kognitif, serta akademis.
Penanganan autisme bertujuan untuk mengembangkan kemampuan para penyandang semaksimal mungkin agar mereka bisa menjalani kehidupan sehari-hari. Beberapa langkah penanganan yang umumnya dianjurkan adalah:
  • Terapi perilaku dan komunikasi. Ini dilakukan agar penyandang autisme lebih mudah beradaptasi. Contoh terapinya adalah terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioural Therapy (CBT).
  • Terapi keluarga agar orang tua atau saudara bisa belajar cara berinteraksi dengan penyandang autisme.
  • Pemberian obat-obatan. Walau tidak bisa menyembuhkan autisme, obat-obatan mungkin diberikan guna mengendalikan gejala-gejala tertentu. Contohnya, antidepresan untuk mengendalikan gangguan kecemasan, penghambat pelepasan selektif serotonin (SSRI) untuk menangani depresi, melatonin untuk mengatasi gangguan tidur, atau obat anti-psikotik untuk menangani perilaku yang agresif dan membahayakan.
  • Terapi psikologi. Penanganan ini dianjurkan apabila penyandang autisme juga mengidap masalah kejiwaan lain, seperti gangguan kecemasan.

Pengajaran dan Pelatihan Untuk Orang Tua

Peran orang tua bagi anak-anak penyandang autisme sangatlah penting. Partisipasi aktif orang tua akan mendukung dan membantu meningkatkan kemampuan sang anak.
Mencari informasi sebanyak mungkin tentang autisme serta penanganannya sangat dianjurkan untuk para orang tua. Anda bisa mencari tahu lebih banyak melalui Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI) serta Yayasan Autisma Indonesia.
Membantu anak Anda untuk berkomunikasi juga dapat mengurangi kecemasan dan memperbaiki perilakunya, karena komunikasi adalah hambatan khusus bagi anak-anak dengan autisme. Kiat-kiat yang mungkin bisa berguna meliputi:
  • Menggunakan kata-kata yang sederhana.
  • Selalu menyebut nama anak saat mengajaknya bicara.
  • Manfaatkan bahasa tubuh untuk memperjelas maksud Anda.
  • Berbicara dengan pelan dan jelas.
  • Beri waktu pada anak Anda untuk memroses kata-kata Anda.
  • Jangan berbicara saat di sekeliling Anda berisik.

Metode Pengobatan yang Sebaiknya Dihindari

Ada sejumlah metode pengobatan alternatif yang dianggap bisa mengatasi autisme, tapi, keefektifannya sama sekali belum terbukti dan bahkan berpotensi membahayakan. Metode-metode pengobatan alternatif yang sebaiknya dihindari tersebut adalah:
  • Pola makan khusus, misalnya makanan bebas gluten.
  • Terapi khelasi, yaitu pengguanaan obat-obatan atau zat tertentu untuk menghilangkan zat logam (terutama merkuri) dari dalam tubuh.
  • Terapi oksigen hiperbarik yang menggunakan oksigen dalam ruang udara bertekanan tinggi.
  • Terapi neurofeedback, di mana pasien akan melihat gelombang otaknya melalui monitor dan diajari cara untuk mengubahnya.

Penyebab Dan Pengobatan Aritmia

Aritmia adalah masalah pada irama jantung ketika organ tersebut berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Aritmia terjadi karena impuls elektrik yang berfungsi mengatur detak jantung tidak bekerja dengan baik. Jenis-jenis aritmia yang paling umum dijumpai antara lain:
  • Bradikardia. Kondisi ketika jantung berdetak lebih lambat atau tidak teratur.
  • Blok jantung. Kondisi ketika jantung berdetak lebih lambat dan bisa menyebabkan seseorang pingsan.
  • Takikardia supraventrikular. Kondisi ketika jantung berdenyut cepat secara tidak normal.
  • Fibrilasi atrium. Kondisi ketika jantung berdetak sangat cepat, bahkan pada saat sedang beristirahat.
  • Fibrilasi ventrikel. Jenis aritmia yang dapat menyebabkan penderitanya kehilangan kesadaran atau kematian mendadak akibat detak jantung yang terlalu cepat dan tidak teratur.

Aritmia bisa terjadi tanpa menimbulkan gejala yang disadari oleh penderitanya. Munculnya gejala pun tidak serta-merta menandakan bahwa kondisi jantung yang dialami sangat parah. Gejala yang dapat muncul dan dirasakan antara lain:
  • Rasa berdebar di dada
  • Detak jantung lebih cepat daripada normal (takikardia)
  • Detak jantung lebih lambat daripada normal (bradikardia)
  • Kelelahan
  • Pusing
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Pingsan
Berkonsultasi dengan dokter sangat penting jika muncul gejala-gejala seperti yang disebut di atas. Hal itu bertujuan agar dokter bisa segera mendiagnosa jenis artimia yang dialami dengan cepat dan tepat.

Penyebab Aritmia

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya aritmia, di antaranya:
  • Ketidakseimbangan kadar elektrolit dalam darah. Kadar elektrolit seperti kalium, natrium, kalsium, dan magnesium mampu mengganggu konduksi impuls listrik di jantung, sehingga meningkatkan risiko terjadinya aritmia.
  • Penggunaan narkoba. Penggunaan obat-obatan terlarang seperti amfetamin dan kokain dapat memengaruhi kinerja jantung secara langsung sehingga meningkatkan risiko untuk terjadinya fibrilasi ventrikel dan jenis-jenis aritmia yang lain.
  • Efek samping obat-obatanBeberapa obat batuk dan pilek yang dijual bebas di apotek dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami aritmia.
  • Terlalu banyak mengonsumsi alkohol. Konsumsi alkohol dalam jumlah yang berlebihan mampu memengaruhi impuls listrik jantung sehingga meningatkan risiko terjadinya fibrilasi atrium.
  • Terlalu banyak mengonsumsi kafein maupun nikotin (merokok). Kafein dan nikotin menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dari normal, dan dapat berkontribusi terjadap terjadinya aritmia.
  • Gangguan kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid yang terlalu aktif atau kurang aktif mampu meningkatkan risiko terjadinya aritmia.
  • Sleep apnea obstruktif. Kelainan ini, di mana pernapasan menjadi terganggu pada saat tidur, dapat meningkatkan risiko bradikardia, fibrilasi atrium, serta jenis aritmia yang lainnya.
  • DiabetesSelain meningatkan risiko aritmia, diabetes yang tidak terkontrol juga mampu meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan tekanan darah tinggi.
  • Hipertensi atau tekanan darah tinggiHipertensi akan menyebabkan dinding bilik kiri jantung menebal dan menjadi kaku, sehingga aliran listrik jantung akan terganggu.
  • Penyakit jantung koroner, gangguan lain pada jantung, atau riwayat operasi jantung.Penyempitan pembuluh darah arteri jantung, serangan jantung, kelainan pada katup jantung, gagal jantung, dan kerusakan jantung lainnya merupakan faktor risiko dari hampir segala jenis aritmia.

Diagnosis Aritmia

Untuk mendiagnosis aritmia dokter akan melakukan beberepa tes, di antaranya:
  • Ekokardiogram. Untuk mengevaluasi fungsi katup dan otot jantung serta mendeteksi penyebab aritmia dengan bantuan gelombang suara ultrasound.
  • Elektrokardiogram (EKG). Untuk merekam aktivitas elektrik di dalam jantung dengan menempelkan elektroda pada permukaan kulit di dada.
  • Uji Latih Beban Jantung. Pasien akan diminta untuk melakukan latihan fisik, seperti mengayuh sepeda statis atau berjalan di atas treadmill. Kemudian tekanan darah dan denyut jantung pasien diteliti melalui monitor. Metode diagnosis ini dipadukan dengan elektrokardiogram. Dari tes ini, dokter dapat melihat seberapa jauh tingkat keteraturan irama jantung sebelum berubah oleh pengaruh aktivitas fisik tadi.
  • Monitor Holter. Cara kerja alat ini tidak jauh berbeda dengan elektrokardiogram. Namun bedanya, alat yang bernama monitor Holter ini bisa dibawa pasien pulang agar dapat merekam aktivitas jantungnya selama dia melakukan rutinitas tiap hari.
  • Studi elektrofisiologi. Lokasi aritmia dan penyebabnya dapat diketahui dengan menggunakan teknik pemetaan penyebaran impuls listrik di dalam jantung. Dokter akan memasukkan sebuah kateter yang dilengkapi elektroda ke beberapa pembuluh darah di dalam jantung. Studi elektrofisiologi juga bisa digunakan serupa seperti metode tes tekanan, dengan cara merangsang jantung berkontraksi pada tingkat yang dapat memicu perubahan detak dengan menggunakan elektroda tersebut.
  • Kateterisasi jantung. Metode ini menggunakan alat yang sama dengan studi elektrofisiologi, yaitu kateter. Namun pada kateterisasi jantung, pemeriksaan dilakukan dengan bantuan zat pewarna khusus dan X-ray untuk mengetahui kondisi beberapa bagian jantung seperti bilik, koroner, katup, serta pembuluh darah.
Pada beberapa kasus, dokter dapat dengan mudah mendiagnosis aritmia melalui pemeriksaan denyut jantung biasa. Namun ada beberapa kondisi selain aritmia yang juga memiliki gejala yang sama. Untuk memastikan pasien menderita aritmia serta penyebabnya, tes-tes yang lebih detil harus dilakukan. Hasil diagnosis akan memudahkan dokter dalam menentukan jenis pengobatan yang sesuai.

Pengobatan Aritmia

Ada sebagian pasien aritmia yang tidak membutuhkan pengobatan. Pengobatan biasanya diberikan dokter jika melihat gejala aritmia pasien berpotensi menjadi lebih buruk atau menyebabkan komplikasi. Jenis pengobatan yang dilakukan adalah:
  • Obat-obatan, misalnya obat-obatan penghambat beta yang dapat menjaga denyut jantung agar tetap normal. Ada juga obat-obatan antikoagulan seperti aspirin,warfarin, rivaroxaban, dan debigatran yang menurunkan risiko terjadinya penggumpalan darah dan stroke.
  • Alat picu jantung dan implantable cardioverter defibrillator (ICD). Untuk menjaga detak jantung tetap normal pada kasus-kasus aritmia tertentu. Alat ini dipasang di bawah kulit dada bagian atas pasien. Ketika alat ini mendeteksi adanya perubahan ritme jantung, alat ini akan mengirim sengatan listrik pendek ke jantung guna menghentikan ritme yang tidak normal tersebut dan membuatnya kembali normal.
  • Kardioversi. Jika suatu kasus aritmia tidak bisa ditangani dengan obat-obatan, kardioversi akan dilakukan. Dokter akan memberikan kejutan listrik ke dada pasien untuk membuat denyut jantung kembali normal. Kardioversi elektrik biasanya diberikan pada kasus aritmia fibrilasi atrium dan takikardia supraventrikular.
  • Metode ablasi. Untuk mengobati aritmia yang letak penyebabnya sudah diketahui. Dokter akan memasukkan sebuah kateter dengan panduan X-ray melalui pembuluh darah di kaki. Ketika kateter berhasil menemukan sumber gangguan ritme jantung, maka alat kecil itu akan merusak bagian kecil jaringan jantung tersebut.

Pencegahan Aritmia

Aritmia dapat dicegah melalui langkah-langkah berikut ini:
  • Menghindari atau mengurangi stres.
  • Mengonsumsi makanan sehat.
  • Menjaga berat badan ideal.
  • Tidak sembarangan mengonsumsi obat tanpa petunjuk obat dari dokter, terutama obat batuk dan pilek yang mengandung zat stimulan pemicu jantung berdetak cepat.
  • Membatasi konsumsi minuman keras dan berkafein.
  • Tidak merokok dan berolahraga secara teratur.

Komplikasi Aritmia

Komplikasi terjadi jika aritmia membuat jantung tidak mampu memompa darah secara efektif. Jika aritmia tidak segera ditangani atau tidak mendapat penanganan yang tepat, maka dalam jangka panjang pasien bisa mengalami gagal jantung, stroke, bahkan bisa berujung kematian.

Penyebab Dan Pengobatan Astigmatisme

Astigmatisme adalah gangguan penglihatan yang diakibatkan cacat pada kelengkungan lensa atau kornea yang berakibat pandangan terdistorsi atau kabur. Astigmatisme umumnya muncul saat lahir, namun bisa juga disebabkan oleh cedera yang dialami oleh mata di kemudian hari atau sebagai komplikasi dari operasi mata.


Penyakit yang menyebabkan berkurangnya ketajaman penglihatan dalam berbagai jangkauan jarak ini dapat dialami juga oleh seseorang yang menderita rabun jauh (miopia) maupun rabun dekat (hipermetropi). Jika dibiarkan, astigmatisme dapat menimbulkan sakit kepala dan mata lelah, terutama ketika setelah menggunakan mata dalam waktu yang lama.

Penyebab Astigmatisme

Astigmatisme disebabkan karena lensa atau kornea yang tidak mulus mengakibatkan cahaya yang masuk ke mata, menjadi tidak fokus ketika diteruskan ke retina. Oleh karena itu, pandangan yang dihasilkan menjadi buram.
Berdasarkan letak kerusakannya, astigmatisme dapat dibedakan menjadi 2 jenis. Astigmatisme yang disebabkan oleh cacat pada kornea mata disebut astigmatisme korneal, sementara yang disebabkan oleh cacat pada lensa mata disebut astigmatisme lentikular.
Sedangkan berdasarkan jenis kerusakannya, terdapat dua jenis astigmatisme, yaitu regulardan irregular. Astigmatisme regular adalah ketika satu sisi kornea mata lebih melengkung dari sisi lainnya. Kondisi ini merupakan kondisi yang paling umum ditemui dan bisa diobati dengan menggunakan bantuan kaca mata atau lensa mata. Astigmatisme irregular adalah ketika kornea mata tidak rata tidak hanya di satu sisi, tetapi di seluruh permukaan kornea. Kondisi ini umumnya dipicu oleh cedera yang meninggalkan luka pada kornea. Kondisi ini bisa diobati dengan menggunakan bantuan contact lens, tapi tidak dengan kaca mata.
Kasus astigmatisme umumnya muncul sejak lahir, walau penyebab pasti kenapa kondisi ini muncul masih belum diketahui. Terdapat asumsi bahwa astigmatisme bersifat keturunan di dalam keluarga. Kondisi ini juga lebih banyak ditemukan pada bayi dengan berat badan rendah atau lahir prematur.
Beberapa penyebab yang dapat menyebabkan astigmatisme:
  • Komplikasi akibat operasi mata.
  • Cedera pada kornea akibat infeksi.
  • Kondisi pada kelopak mata yang mengganggu struktur kornea. Misalnya terdapat benjolan pada kelopak mata yang menekan kornea.
  • Keratoconus dan keratoglobus, kondisi di mana kornea dapat berubah bentuk, baik mengggembung atau menipis.
  • Kondisi mata lainnya yang mempengaruhi kornea atau lensa.
Penyakit rabun (hipermetropi/hiperopia) atau rabun jauh (miopia) dapat menyertai astigmatisme.

Gejala Astigmatisme

Astigmatisme menyebabkan gangguan penglihatan yang dapat berdampak kepada aktivitas sehari-hari penderita. Beberapa gejala dari kondisi ini, yaitu:
  • Pandangan yang samar atau tidak fokus
  • Pusing
  • Mata lelah
  • Sensitif terhadap sorotan cahaya (fotofobia)
  • Kesulitan membedakan warna-warna yang letaknya bersebelahan
  • Kesulitan melihat gambar secara utuh, misalnya garis lurus yang tampak miring
Pada kasus astigmatisme yang parah, penderita dapat mengalami penglihatan ganda.

Diagnosis Astigmatisme

Astigmatisme umumnya bisa terdeteksi setelah melalui pemeriksaan mata rutin. Mengingat astigmatisme dapat muncul ketika lahir, memeriksakan mata secara rutin juga penting dilakukan khususnya pada bayi yang baru lahir dan anak-anak. Ditambah lagi, anak-anak mungkin tidak menyadari bahwa terdapat gangguan pada daya penglihatan mereka.
Beberapa pemeriksaan yang mungkin dilakukan untuk memastikan gejala dan memastikan diagnosis astigmatisme, antara lain tes keratometer dan tes ketajaman visual. Tes ketajaman visual dilakukan untuk menguji ketajaman penglihatan terhadap suatu objek dari jarak tertentu dengan cara membaca suatu papan deretan huruf yang dikenal dengan nama Snellen chart. Tes keratometer dilakukan untuk mengetahui kondisi cacat pada kornea dengan melihat seberapa fokus cahaya yang diteruskan oleh kornea ke retina.
Tes lain juga dapat dilakukan untuk mengukur fokus cahaya pada mata. Dokter akan meletakkan beberapa jenis lensa bergantian di depan mata dengan bantuan alat bernamaphoropter. Alat bernama retinoskop juga mungin digunakan untuk menyorot cahaya ke dalam mata pasien. Dengan begitu, si pemeriksa dapat menilai derajat ketajaman penglihatan pasien, termasuk kemampuan mata memfokuskan cahaya.
Orang dewasa sehat berusia di atas 40 tahun dan seseorang yang memiliki risiko terkena penyakit mata, seperti penderita diabetes, juga patut melakukan pemeriksaan mata rutin. Konsultasikan bersama dokter mengenai waktu pemeriksaan mata yang harus dilakukan oleh bayi, anak-anak, maupun orang dewasa.

Pengobatan Astigmatisme

Pada sebagian besar kasus, astigmatisme yang diderita tergolong sangat ringan sehingga tidak memerlukan pengobatan sama sekali. Pengobatan astigmatisme bertujuan memperbaiki kualitas penglihatan penderita  dengan penggunaan kaca mata, lensa mata, atau melalui prosedur bedah mata yang menggunakan sinar laser. Pengobatan astigmatisme diberikan berdasarkan jenisnya, yaitu regular atau irregular.
Penggunaan lensa korektif dapat membantu memfokuskan cahaya yang menerpa kornea mata penderita astigmatisme yang memiliki lengkungan atau permukaan tidak rata. Dengan demikian, cahaya yang masuk ke dalam mata dapat jatuh tepat di retina. Pasien dapat menggunakan lensa korektif dalam bentuk kaca mata atau lensa mata sesuai dengan kenyamanan pada mata dan rekomendasi yang diberikan oleh dokter mata.
Pengobatan astigmatisme yang menggunakan bantuan sinar laser bertujuan memperbaiki jaringan pada kornea mata yang tidak melengkung seperti seharusnya. Jaringan sel terluar yang ada pada permukaan kornea akan diangkat terlebih dulu sebelum sinar laser digunakan untuk mengubah bentuk kornea dan memulihkan kemampuan mata memfokuskan cahaya. Prosedur ini umumnya membutuhkan waktu paling lama setengah jam. Selanjutnya kornea dijaga untuk dipulihkan kondisinya. Beberapa jenis prosedur operasi yang menggunakan bantuan laser untuk pengobatan astigmatisme, yaitu LASIK (laser-assisted in situ keratomileusis), LASEK (laser sub-epithelial keratomileusis), danfotorefraktif keraktektomi (PRK).
Konsultasikan jenis pengobatan astigmatisme yang ada dengan dokter Anda sebelum menentukan pengobatan yang sesuai dengan jenis astigmatisme yang dimiliki. Pelajari juga pro dan kontra dari tiap prosedur penanganan yang tersedia.

Komplikasi Astigmatisme

Astigmatisme yang dialami oleh satu mata sejak lahir dapat menyebabkan “mata malas” (lazy eye) atau yang disebut ambliopia. Hal ini terjadi karena otak sudah terbiasa mengabaikan sinyal yang dikirimkan oleh mata tersebut. Ambliopia dapat diobati jika didiagnosa dan diterapi sejak awal sebelum jalur penglihatan di otak berkembang sepenuhnya. Dengan demikian anak akan terhindar dari kondisi lazy eye.

Penyebab Dan Pengobatan Albinisme

Albinisme adalah suatu kelainan yang terjadi sejak lahir yang mana penderitanya mengalami kekurangan melanin atau sama sekali tidak memiliki pigmen tersebut. Kondisi ini menjadikan rambut, kulit, dan mata penderita terlihat berwarna sangat pucat, hingga cenderung putih.
Albinisme bisa diderita oleh kelompok etnis mana pun di dunia. Sebutan “albino” umumnya lebih akrab di telinga masyarakat yang merujuk kepada penderita kelainan ini. Meskipun albinisme tidak bisa disembuhkan seumur hidup, kondisi ini tidak mencegah penderitanya untuk bisa menjalani kehidupan secara normal.

Gejala Albinisme

Warna kulit dan rambut penderita albinisme berbeda-beda, tergantung dari tingkat melanin yang dihasilkan oleh tubuh. Meskipun penderita albinisme yang umum kita jumpai memiliki karakteristik kulit pucat dengan rambut pirang, ada juga sebagian yang memiliki rambut cokelat.
Akibat kekurangan pigmen melanin, kulit penderita albinisme mudah sekali terbakar jika terpapar sinar matahari secara langsung. Bagi penderita albinisme, paparan sinar matahari ini tidak boleh disepelekan karena bukan tidak mungkin bisa mengarah pada komplikasi yang lebih serius, yaitu kanker kulit.
Sedangkan pada mata, kekurangan pigmen melanin tidak hanya dapat mengubah warna iris (umumnya menjadi abu-abu atau biru pucat), tapi juga dapat menyebabkan pandangan menjadi terganggu serta sensitif terhadap cahaya. Beberapa contoh kondisi mata yang bisa timbul akibat albinisme adalah rabun dekat, rabun jauh, mata silindris, juling, dan nistagmus (gerakan ritmik tanpa kontrol) dari sisi ke sisi.
Gangguan penglihatan ini dapat berpengaruh terhadap kemampuan bayi dalam mempelajari gerakan, misalnya merangkak atau mengambil suatu objek. Sering kali anak-anak penderita albinisme terlihat kikuk akibat gangguan pada penglihatannya.

Penyebab Albinisme

Albinisme disebabkan oleh adanya perubahan atau mutasi pada salah satu gen yang bertugas membantu produksi melanin oleh sel-sel melanocytes yang terdapat di dalam mata dan kulit. Akibat perubahan gen ini, produksi melanin menjadi terganggu (berkurang drastis atau tidak ada sama sekali).
Ada dua jenis albinisme yang utama, yaitu albinisme okular dan okulokutaneus. Albinisme okular merupakan jenis yang jarang ditemukan. Kondisi ini lebih berdampak pada penglihatan penderitanya ketimbang menyebabkan perubahan warna kulit, rambut, atau pun mata. Artinya, penderita hanya mengalami gangguan penglihatan saja. Namun secara penampilan, warna kulit, rambut, dan mata penderita seperti orang-orang normal, meski ada sebagian kecil yang terlihat sedikit lebih pucat. Albinisme okular disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom-X dan hampir sebagian besar penderitanya adalah laki-laki.
Sedangkan albinisme okulokutaneus merupakan jenis albinisme yang paling umum. Kondisi ini berdampak pada rambut, kulit, dan mata, dan sering disebut juga sebagai albinisme komplit. Berdasarkan ciri-ciri fisik penderitanya, albinisme okulokutaneus terbagi menjadi empat tipe, yaitu:
  • Tipe 1. Sejak lahir, penderita albinisme okulokutaneus tipe ini akan memiliki ciri-ciri rambut dan kulit berwarna putih, serta mata berwarna biru. Kendati sebagian besar tidak menunjukkan peningkatan pigmentasi hingga dewasa, namun beberapa penderita ada yang mulai memproduksi melanin saat memasuki usia kanak-kanak.
  • Tipe 2. Saat lahir, kulit penderita albinisme okulokutaneus tipe ini akan terlihat berwarna putih dengan mata berwarna cokelat atau abu-abu kebiruan. Rambut mereka berwarna kuning, cokelat kemerahan, atau merah. Seiring perkembangan usia, paparan sinar matahari dapat menimbulkan bintik-bintik, bercak berwarna cokelat (lentigo), atau bahkan tahi lalat pada kulit penderita. Albinisme okulokutaneus sebagian besar ditemukan pada orang-orang Amerika asli, Afrika-Amerika, dan orang-orang Afrika wilayah sub-Sahara.
  • Tipe 3. Penderita albinisme okulokutaneus tipe ini umumnya memiliki ciri-ciri rambut dan kulit berwarna kemerahan, serta mata berwarna cokelat. Kondisi ini paling banyak ditemukan pada orang-orang Afrika selatan.
  • Tipe 4. Kondisi ini paling banyak diidap oleh orang-orang keturunan Asia Timur dan ciri-cirinya mirip Albinisme okulokutaneus tipe 2.
Ada penyakit gangguan genetik lainnya yang juga dapat menyebabkan munculnya gejala-gejala mirip albinisme, meskipun tergolong langka. Penyakit tersebut adalah sindrom Chediak-Higashi dan sindrom Hemansky Pudlak.
Selain menyebabkan gejala mirip albinisme, sindrom Chediak-Higashi dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko terkena infeksi. Sedangkan sindrom Hermansky Pudlak dapat juga menyebabkan gangguan pendarahan.

Diagnosis Albinisme

Albinisme bisa didiagnosis langsung oleh dokter sejak penderita lahir melalui ciri-ciri fisik mereka (warna rambut, kulit, dan mata) sesuai dengan apa yang sudah dijelaskan pada kategori gejala dan jenis-jenis albinisme.
Untuk mengetahui adanya masalah pada penglihatan, dokter spesialis mata bisa melakukan beberapa pemeriksaan, misalnya pemeriksaan dengan menggunakan alat khusus yang disebut slit lamp, pengecekan pupil, pemeriksaan bentuk lengkungan kornea untuk mendiagnosis silinder, pemeriksaan arah penglihatan mata untuk mendiagnosis juling, dan pemeriksaan gerakan mata untuk mendiagnosis nistagmus.

Pengobatan Albinisme

Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan albinisme, pengobatan atau perawatan ditujukan untuk memaksimalkan penglihatan penderita serta melindungi kulit mereka.
Sebagian besar bayi penderita albinisme akan mengalami gangguan penglihatan parah selama beberapa bulan pascalahir. Setelah itu, penglihatan akan berkembang secara signifikan meskipun tidak akan pernah mencapai level penglihatan normal. Oleh sebab itu, penderita albinisme biasanya seumur hidup harus memakai kacamata atau lensa kontak yang diresepkan oleh dokter spesialis mata sesuai dengan kondisi terkait, misalnya yang khusus untuk rabun jauh, rabun dekat, atau silinder, serta menjalani pemeriksaan mata secara rutin tiap tahunnya.
Jika Anda menderita albinisme dan mengalami fotofobia (penglihatan sensitif terhadap sinar matahari), dokter bisa menyarankan pemakaian kacamata yang mampu menangkal ultraviolet atau kacamata berlensa gelap.
Penanganan albinisme melalui jalur operasi biasanya jarang dilakukan. Namun untuk beberapa kondisi, seperti mata juling dan nistagmus, operasi perbaikan otot-otot mata bisa direkomendasikan agar kondisi-kondisi tersebut tidak terlihat secara jelas dari luar.
Selain pemeriksaan mata yang harus dilakukan rutin tiap tahun, pemeriksaan kulit juga tidak kalah pentingnya bagi penderita albinisme agar dokter mengetahui seberapa besar risiko mereka terkena kanker kulit, serta memberikan saran-saran pencegahannya.
Jika Anda penderita albinisme, sebisa mungkin jangan melakukan aktivitas di luar rumah ketika cuaca sedang panas terik. Jika terpaksa pergi ke luar, selalu gunakan krim tabir surya serta pakaian yang bisa melindungi diri dari paparan sinar matahari secara langsung.

Penyebab Dan Pengobatan Autisme

Autisme atau  Autism Spectrum Disorder   (ASD)  adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi, inte...